IPM My Organisation

Nuun Qalami wama yasturuun

Rabu, 28 September 2011

Melatih Kejujuran

Melatih Kejujuran


myspace code
Ga semua kita dapat selalu bersikap jujur, termasuk jujur pada diri sendiri. Sepertinya, dengan berbohong, posisi diri udah aman. Padahal itu menunjukkan gejala-gejala ketakutan. Takut dipermalukan, takut keinginannya ntar ga kesampaian. Kejujuran berkaitan erat dengan keberanian. Orang bisa jujur, karena berani. Orang berani, belum tentu jujur. Lho kok gitu? Kasih contoh aja, ada dua orang yang ngembat uang temennya sendiri. Pelaku yang satu merasa menyesal, langsung dia temui korbannya. Ngaku kalo dia ngambil dan lantas mengembalikan. Berani. Satunya lagi, ga mau tanggung jawab. Ga mau ngaku, padahal saksi di depan mata. Malah balik marahin. Enak aja nuduh! Ngapain dia bawa-bawa nama saya. Urus aja uangmu yang hilang sama dia. Berani, tapi ga jujur.
Orang akan lebih respek bila kita jujur. Benci bilang benci. Suka ya bilang aja suka. Ga muna'. Tanpa tedheng aling-aling. Aku nulis gini, jangan lantas bilang temen kamu jelek lho! Walau kenyataannya emang jelek. Gunakan bahasa yang ga nyakitin. Misalnya, rambut kamu bagus, tapi akan lebih bagus kalo disisir. Jujur juga kan?
Sesuatu yang sebenarnya ingin kita nyatakan, tapi sengaja ditutup-tutupi, cepat atau lambat bisa aja terkuak. Entah kalo bukan kita yang ngaku, mulut orang lain mungkin yang ngasih tahu. Terus, gimana biar kita tahu sejauh mana tingkat kejujuran kita? Ada sih, yang namanya test kejujuran. Contohnya gini:
Seorang ibu pengin tahu anaknya jujur apa nggak. Dia bilang ke anak tersebut, "Udah mimi susu belum? Kalo ade udah mimi, ibu mau kasih hadiah. Besok diajak jalan-jalan". Sang ibu tahu kalo anaknya itu susaaah banget minum susu. Denger gitu ade cepat menjawab, "Udah Bu, bener ya Bu, besok jalan-jalan, asyiik". Ibu itu langsung kecut mukanya. Anaknya belum mampu berkata jujur. Sudah dua hari ini susu habis.
Banyak cara lain buat melatih kejujuran kita. Minimal kita punya laah.. orang yang bisa kita percaya dalam hidup ini. Entah orang tua, saudara, temen dll. Mereka banyak membantu. jangan malu-malu ungkapkan masalah, toh landasannya saling percaya. Masalahmu bisa jadi rahasia bersama, hingga benar-benar dapat diselesaikan.
Kalo kitanya ga jujur, orang lain mungkin nunggu-nunggu lho. Meraba-raba apa yang ada dalam benak kita. Coba aja jujur. Kitanya plong, orang lain jadi ngerti kondisi kita. Bahkan mungkin bisa nerima kita apa adanya. Kalo masih ga ngerti juga, bukan salah kita donk. Clear kan? Wink

Tidak ada komentar:

Posting Komentar